Al-qardh secara bahasa juga bisa diartikan dengan sebagian pinjaman atau hutang, sedangkan al-hasan artinya baik. Apabila digabungkan al-qardh al-hasan berarti pinjaman yang baik. Dalam menjelaskan al-qardh al-hasan para ahli fiqh muamalah menggunakan istilah qardh, karena istilah al-qardh al-hasan tidak ditemukan dalam literatur fiqh muamalah. Namun demikian, maka qardh yang dimaksudkan oleh mereka itulah al-qardh al-hasan.
Bahawa al-qardh adalah suatu aqad perjanjian antara penghutang dengan peminjam yang melakukan hutang dan piutang. Dalam aqad tersebut miliknya kepada peminjam dalam waktu tertentu. Peminjam juga berjanji akan membayar kembali kepada penghutang sama seperti nilai harta yang dipinjamkannya dan tidak lebih daripada itu, sesuai dengan kesepakatan. Oleh karena itu, pinjam meminjam adalah suatu bahagian dari kehidupan kita di dunia ini. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan segenap kebutuhan. Jadi pinjaman yang diberikan itu adalah semata-mata suatu muamalah yang baik.
Dasar Hukum Al-qardh Al-Hasan
Al-Qur’an
Dasar-dasar hukum yang digunakan dalam pelaksanaan sistem ini adalah berdasarkan beberapa ayat-ayat dari Al-qur’an. Diantaranya seperti Dalam firman Allah yang telah digambarkan secara umum mengenai pinjam meminjam, yang terdapat dalam surat Al-Maidah ayat 2:
Artinya: “ Dan tolong menolong kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong menolong untuk berbuat dosa dan permusuhan” (Qs. Al-Maidah:2)
Menurut Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengatakan bahwa pada ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk saling tolong menolong dalam hal kebaikan. Karena manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan satu sama lain, banyak pekerjaan yang tidak bisa dipikir seorang diri, dengan konsep tolong menolong semua pekerjaan akan lancar. Allah SWT memerintahkan untuk hidup saling tolong menolong dan membina kebajikan yaitu segala ragam maksud yang baik dan berfaedah, yang didasarkan kepada penegakan taqwa, yaitu mempererat hubungan dengan Allah dan mencegah tolong-menolong atas perbuatan dosa serta yang dapat menimbulkan permusuhan yang menyakiti sesama manusia.
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 245 Allah juga berfirman:
Artinya:”Siapakah yang mau meminjamkan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan ganda yang bayak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadanyalah kamu dikembalikan.” (Q.S Al- Baqarah:245)
Dalam ayat diatas, Allah SWT menegaskan orang yang memberi pinjaman ‘al-qardh’’ itu sebenarnya ia memberi pinjam kepada Allah SWT, artinya untuk membelanjakan harta dijalan Allah. Selaras meminjamkan harta kepada Allah, manusia juga diseru untuk meminjamkan kepada sesamanya, sebagai sebagian kehidupan bermasyarakat (civil society). Kalimat qardhan hasanan dalam ayat 245 surat Al-baqarah tersebut berarti pinjaman yang baik, yaitu infak di jalan Allah. Arti lainnya adalah pemberian nafkah kepada keluarga dan juga tasbih serta taqdis (pencucian).
Rukun Al -Qardh Hasan
Salah satu transaksi dalam ekonomi Islam adalah Al-qardh Al-hasan dan tentulah memiliki rukun. Rukun adalah sesuatu yang harus ada pada suatu pekerjaan/amal ibadah dalam waktu pelaksanaan amal/ibadah tersebut. Adapun rukun yang harus al-qardh al-hasan penuhi adalah sebagai berikut:
- Orang yang meminjamkan pinjaman (muqtaridh)
- Pihak yang memberi pinjaman (muqridh)
- Objek akad yang merupakan pinjaman yang dipinjamkan oleh pemilik kepada pihak yang menerima pinjaman (dana/qardh)
- Ijab qabul (sighah) perkataan yang diucapkan oleh pihak yang menerima pinjaman dari orang yang memberi barang pinjaman atau ucapan yang mengandung adanya izin yang menunjukkan kebolehan untuk mengambil manfaat dari pihak yang menerima pinjaman
Syarat-Syarat Al-qardh Al-Hasan
1. Pihak yang meminjam (muqtaridh)
Pihak yang meminjam adalah seseorang yang meminjam sejumlah uang atau harta kepada orang lain untuk digunakan sementara waktu dan akan dikembalikan pada waktu yang telah disepakati. Secara umum pihak yang terlibat dalam transaksi yaitu dain dan muddain adalah orang yang telah cakap dalam bertindak terhadap harta dan berbuat kebajikan, yaitu orang dewasa, berbuat sendiri tanpa paksaan dan berakal sehat
Secara rinci dapat dijelaskan bahwa peminjaman haruslah mempunyai Kriteria yang sempurna sebagai syarat penting untuk melakukan pinjaman menurut syara’ yaitu:
a) Layak menjalankan perniagaan adalah orang yang sah menurut syara’ untuk melakukan muamalah walaupun orang tersebut buta, akan tetapi ia tetap sah menjalankan perniagaan dan boleh minjam.
b) Mampu membayar kembali artinya setiap orang yang berhak meminjam hendaknya harus disepakati terlebih dahulu bahwa ia adalah orang yang mampu membayar kembali pinjaman tersebut. Namun bila berhutang memang tidak mampu membayar utangnya pada waktu jatuh tempo. Orang yang mengutangi diharapkan bersabar sampai orang yang berutang mempunyai kemampuan, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah 280:
Artinya: Jika mereka (orang yang berutang) dalam kesulitan, maka hendaklah tunggu sampai ia mempunyai kemampuan untuk membayar, bila kamu sedekahkan itu akan lebih baik seandainya kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 280)
Orang yang bangkrap (muflis)
Orang yang telah diketahui bangkrap dalam suatu usaha diharuskan memohon pinjaman. Kerana orang yang bangkrap itu masih mampu mengurus hartanya. Orang yang bangkrap itu terpaksa mengakhiri usahanya, keterpaksaan itu karena hartanya bukan pada dirinya.
Meminjam untuk pembelanjaan hidup
Apabila kebutuhan tidak mencukupi dari hasil penghasilannya, maka dibolehkan untuk memohon pinjaman pada pihak lain untuk memenuhi kebutuhannya hidupnya.
2. Pihak yang memberi pinjaman (muqtaridh)
Seseorang yang memberikan pinjaman yang berbentuk uang atau harta miliknya untuk dipinjamkan kepada orang lain yang membutuhkannya. Dan ini memiliki syarat tertentu dalam hal memberi pinjaman antara lain adalah:
Ahli tabarru’
Yaitu orang yang layak memberi sumbangan dan harus melakukan perniagaan seperti muamalah jual beli, pinjaman, sewa-menyewa, dan gadai menggadaikan. Pemberi hutang mestinya orang yang waras akalnya dan bukan orang yang gila atau terlalu bodoh. Jadi wali orang gila atau wali orang yang bodoh boleh menjalankan perniagaan pinjaman mereka dengan meminjamkan uang perwalian itu kepada peminjam dengan syarat tidak ada unsur paksaan. Seandainya ada unsur paksaan, maka perniagaan tersebut tidak sah dan batal.
Akan tetapi menurut Al-Subki, bahwa seandainya peminjam tersebut orang mudah membayar hutang dan mempunyai sifat amanah serta ada barang untuk dijadikan jaminan hutangnya tersebut, maka perniagaan tersebut adalah sah dan tidak batal.
Pemilik yang benar
Yang memberikan pinjaman juga harus benar terhadap harta yang dipijamkannya dan harta tersebut diperoleh dari yang halal. Kepemilikan juga suatu yang dimiliki dan juga merupakan hubungan seseorang dengan suatu harta yang diakui oleh syara’ yang menjadikannya mempunyai kekuasaan khusus terhadap harta itu, sehingga ia dapat melakukan tindakan hukum terhadap harta itu kecuali adanya halangan syara’. benda yang dikhususkan kepada seseorang itu sepenuhnya berada dalam penguasaannya, sehingga orang lain tidak boleh bertindak dan memanfaatkannya. Pemilik harta bebas bertindak hukum terhadap hartanya selama tidak ada halangan dari syara’. Contoh halangan syara’ antara lain adalah orang itu belum cakap bertindak hukum, misalnya anak kecil, orang gila, atau kecakapan hukumnya hilang, seperti orang yang jatuh pailit, sehingga dalam hal-hal tertentu mereka tidak dapat bertindak hukum terhadap miliknya sendiri.[17]
3. Dana (qardh)
Objek akad yang merupakan barang pinjaman. Barang pinjaman adalah barang yang dipinjamkan oleh pemilik barang kepada si peminjam. Syarat barang yang berkenaan dengan objek yaitu uang. Uang adalah jelas nilainya, milik sempurna dari yang memberi hutang dan dapat diserahkan pada waktu akad.[18]
Ulama Mazhab Maliki, Syafi’i dan hambali mengatakan barang yang sah dipinjamkan dalam al-qardh al-hasan adalah setiap barang yang bisa diperjualbelikan, yang dapat ditakar dan dapat ditimbang setiap barang seperti emas, perak, makanan dan juga sah pada barang-barang qimy. sedangkan Ulama Hanafiah mengatakan bahwa barang yang akan dipinjamkan tersebut sah pada harta mitsli.[19] Harta mitsli sering disebut juga barang semisal. Barang semisal adalah barang yang memiliki padanan yang tersebar di pasar tanpa ada perbedaan yang berarti dalam penggunaannya. Ada yang berbentuk takaran, barang timbangan, yang masing-masingnya tidak memiliki perbedaan nilai, contohnya berbagai macam biji-bijian, kain tenunan dan sejenisnya.
4. Ijab qabul (sighah)
Lafaz akad adalah ijab kabul. Ijab qabul merupakan gabungan dari dua kata, ijab dan qabul. Ijab adalah permulaan penjelasan yang keluar dari salah seorang yang berakad sebagai gambaran kehendaknya dalam mengadakan akad, sedangkan qabul adalah perkataan yang keluar dari pihak yang berakat pula, yang diucapkan setelah adanya ijab.[20] Yang dimaksud dengan pengucapan akad itu adalah ungkapan yang dilontarkan oleh orang yang melakukan akad untuk menunjukkan keinginannya yang mengesankan bahwa akad tersebut sudah berlangsung.[21]
Qardhul Hassan Fund
Qardhul Hassan Fund merupakan sejenis pembiayaan hutang. Di dalam pinjaman secara Qardhul Hassan ini, orang yang memerlukan sumber kewangan seperti golongan fakir dan miskin boleh berhutang daripada seseorang. Beliau hanya perlu membayar semula jumlah wang yang dihutang sahaja, tanpa dikenakan sebarang syarat untuk bayaran tambahan. Berasaskan kepada konsep inilah Qardhul Hassan dikenali juga sebagai pinjaman kebajikan. Melalui prinsip Qardhul Hassan ini, golongan fakir dan miskin mendapat kemudahan sumber kewangan untuk membiayai keperluan asas kehidupan harian mereka.
Di dalam prinsip Qardhul Hassan Fund, pemiutang atau pihak yang memberi hutang tidak mendapat sebarang pulangan material daripada pinjaman yang telah diberikan.
Pemberian pinjaman tersebut lebih bertujuan untuk membantu golongan yang sedang di dalam kesempitan selain bertujuan menguatkan silaturrahim dan kasih sayang di antara golongan kaya dengan golongan miskin. Islam juga memberikan ganjaran pahala yang besar kepada pemberi hutang bahkan melebihi daripada pahala sedekah. Pemberian sedekah diberikan kepada orang yang tidak berhajat sedangkan pemberian hutang diberikan kepada orang yang berhajat.
Secara prinsipnya, Qardhul Hassan bermaksud aqad yang memindahkan hak milik tuan punya hutang kepada pihak yang berhutang. Pihak yang berhutang wajib membayar balik jumlah wang atau barang yang dihutang sama dengan yang diterimanya semasa aqad apabila sampai tempoh yang telah ditetapkan. Rukun perlaksanaan Qardhul Hassan ada empat iaitu pemberi hutang, penerima hutang, barang yang dihutang dan sighah iaitu ijab dan qabul. Kesemua rukun-rukun tersebut mempunyai syarat-syarat yang ditetapkan oleh syariat dan perlu dipenuhi bagi menentukan sah atau tidaknya perlaksanaan Qardhul Hassan tersebut. Pada dasarnya, hukum memberi hutang adalah harus.
Namun apabila seseorang itu berhajat kepada sesuatu yang dharuriyah yakni berhajat kepada salah satu daripada keperluan asas individu dan beliau tidak mempunyai jalan lain selain daripada berhutang, maka menjadi kewajipan golongan kaya untuk membantu.
Di dalam menjelaskan hutang secara Qardhul Hassan pula, pembayaran balik boleh dibuat lebih daripada jumlah yang dihutang mengikut budi bicara orang yang berhutang tetapi dengan syarat ia bukan merupakan ketetapan atau perjanjian yang dikenakan di dalam aqad hutang. Lebihan atau saguhati itu mesti merupakan pemberian ikhlas daripada penghutang sebagai tanda penghargaan kepada pemberi hutang. Saguhati tersebut adalah halal dan ia bukan merupakan riba kerana ia tidak disyaratkan di dalam aqad oleh pemberi hutang.
Rujukan :-
[17] Nasrun Harun, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2000), hlm.31
[18] Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fikih, (Jakarta: Prenada Media, 2003) hlm. 224
[19] Hendi suhendi, Fiqh Muamalah........,hlm.20
[20] Ibid, hlm. 47
[21] Shalah As-Shawi dan Abdullah Al-Mushlih, Fiqih Ekonomi keuangan islam, (Jakarta: darul Haq, 2008). hlm.29
http://qhf2u.blogspot.com/2010/05/latar-belakang-qardhul-hasan-fund.html
http://caknenang.blogspot.com/2011/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html